Tampilkan postingan dengan label TAFSIR ILMU TAFSIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAFSIR ILMU TAFSIR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2021

ILMU TAFSIR

 MUHKAM DAN MUTASYĀBIH

DALAM AYAT-AYAT AL-QUR'AN 


1. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

Muhkam secara lughawy berasal dari kata hakama. Kata hukm berarti memutuskan antara dua hal atau lebih perkara, maka hakim adalah orang yang mencegah yang zalim dan memisahkan dua pihak yang sedang bertikai. Sedangkan muhkam adalah sesuatu yang dikokohkan, jelas, fasih dan membedakan antara yang hak dan batil. 

Seluruh ayat al-Qur’an bersifat muhkam.Allah melukiskannya sebagai: 

Artinya: “Kitab yang ayat-ayatnya diperjelas, terbebaskan dari kesalahan dan serta tersusun rapi tanpa cacat” (QS. Hud [11]: 1) 

Allah juga memperkenalkan al-Qur’an sebagai melukiskannya sebagai

Artinya: “Kitab yang Mutasyābih” (QS. Az-Zumar [39]:23) 

Kata mutasyābih (متشابه) terambil dari akar kata asy-Syabbah (الشبة) yang bermakna serupa (tapi tak sama). Yang dimaksud oleh ayat Az-Zumar di atas adalah ayat-ayat al-Qur’an serupa dalam keindahan dan ketepatan susunan redaksinya serta kebenaran informasinya.  

Di tempat lain, Allah berfirman


“Dialah yang menurunkan kepadamu (wahai Nabi Muhammad) al-Kitab; ada di antara ayat-ayat-Nya yang Muhkamat dan ada juga selain itu yang Mutasyābihat” (QS. Ali Imran [3]: 7) 

Yang dimaksud dengan mutasyābih pada ayat Ali Imran ini adalah “samar”. Ini adalah pengembangan dari makna keserupaan di atas. Memang keserupaan dua hal atau lebih, dapat menimbulkan kesamaran dalam membedakannya masing-masing.  

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan muhkam, antara lain: 

1) Ayat yang diketahui maksudnya, baik karena kejelasan redaksinya sendiri, maupun melalui ta’wīl penafsiran. 2) Ayat yang tidak dapat menerima kecuali satu penafsiran. 3) Ayat yang kandungannya tidak mungkin dibatalkan (mansukh). 4) Ayat yang jelas maknanya dan tidak membutuhkan penjelasan dari luar dirinya, atau ayat yang tidak disentuh oleh sedikitpun kemusykilan. 

Mutasyābih juga diperselisihkan definisinya, antara lain: 

1) Ayat-ayat yang hanya Allah yang tahu kapan terjadi apa yang diinformasikannya, seperti kapan tibanya Hari Kiamat, atau hadirnya dabbat (QS. An-Naml [27]: 82). 

2) Ayat yang tidak dapat dipahami kecuali mengaitkannya dengan penjelasan.   

3) Ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna. 

4) Ayat yang mansukh yang tidak diamalkan karena batal hukumnya. 

5) Apa yang diperintahkan untuk diimani, lalu menyerahkan maknanya kepada Allah. 

6) Qaṣaṣul Qur’an, yaitu kisah-kisah dalam al-Qur’an. 

7) Fawatihus Suwar, yaitu huruf-huruf alfabetis yang terdapat pada awal-awal surat.  

Definisi-definisi di atas mengandung kelemahan-kelemahan, sehingga pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa muhkam adalah yang jelas maknanya, sedang yang mutasyābih adalah yang samar. 

2. Sebab-sebab Timbulnya Kesamaran   

Para ulama mengembalikan sebab-sebab timbulnya kesamaran pada tiga hal pokok: 

1) Kesamaran pada lafadz/kata yang digunakan ayat, seperti firman Allah yang menginformasikan sikap Nabi Ibrahim as. Terhadap patung-patung sembahan kaumnya. Firman Allah pada QS. Ash-Shaffat [37]: 93. 


“lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat).” 

Kata yamin tidak jelas maksudnya, apakah dalam arti tangan kanan atau  sumpah, sehingga ayat tersebut dapat dipahami dalam arti Nabi Ibrahim as. : pergi dengan cepat dan sembunyi-sembunyi menuju patung-patung itu, lalu memukulnya dengan tangan kanannya, atau memukulnya dengan keras, atau memukulnya disebabkan oleh sumpah yang pernah diucapkannya bahwa dia akan merusak berhala-berhala itu. 

2) Kesamaran  pada maknanya, seperti uraian al-Qur’an tentang sifat-sifat Allah, misalnya: “Tangan Tuhan di atas tangan mereka” (QS. al- Fath [48]: 10). 

Atau seperti akan datangnya dabbat (دابة) yang akan “berbicara” menjelang Hari Kiamat (QS An-Naml [27]: 82) 

3) Kesamaran pada lafadz dan maknanya, seperti firman Allah : “Dan bukanlah sebuah kebajikan memasuki rumah dari belakangnya” (QS. AlBaqarah [2]: 189).

Penggalan ayat ini dapat dinilai mutasyābih, karena redaksinya yang sangat singkat. Di samping itu maknanya tidak jelas sehingga diperlukan pengetahuan menyangkut adat istiadat masyarakat Arab Jahiliyah/awal masa Islam, menyangkut cara mereka masuk rumah. 

3. Macam-Macam Mutasyābihat dalam Al-Qur’an 

M. Abdul ‘Adzim Al-Zarqany (w. 1948 M) membagi ayat-ayat mutasyābihat menjadi tiga macam: 

a. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya, seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya, pengetahuan tentang waktu kiamat dan hal-hal gaib lainnya. Allah berfirman Q.S. Al-An’am [6]: 59)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” 

b. Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian, seperti ayat-ayat mutasyābihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutan, dan seumpamanya. Allah berfirman Q.S. An-Nisa’[4]: 3 


“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim, Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi.”  

Maksud ayat ini tidak jelas dan ketidak jelasanya timbul karena lafalnya yang ringkas. Kalimat asal berbunyi : 

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim sekiranya kamu kawini mereka, maka kawinilah wanita-wanita selain mereka.”  

c. Ayat-ayat mutasyābihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan semua ulama. Inilah yang diisyaratkan Nabi dengan doanya bagi Ibnu Abbas: “Ya Tuhanku, jadikanlah dia seorang yang paham dalam Agama, dan ajarkanlah kepadanya takwil” 

4. Pandangan Ulama tentang Muhkam dan Mutasyābih 

Dalam al-Qur’an sering kita temui ayat-ayat mutasyābihat yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah. Contohnya Surah QS.Ar-Rahman ayat 27:

Artinya: “Dan kekallah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” 

Atau dalam QS. Taha [20]: 5 Allah berfirman: 

Artinya: (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas 'Arsy. 

Dalam hal ini Subhi al-Shalih membedakan pendapat ulama ke dalam dua mazhab: 

a. Madzhab Salaf, yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat Mutasyābih itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Mereka mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil ini bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an serta menyerahkan urusan mengetahui hakikatnya kepada Allah sendiri. Karena mereka menyerahkan urusan mengetahui hakikat maksud ayat-ayat ini kepada Allah, mereka disebut pula madzhab Mufawwidah atau Tafwid. Ketika Imam Malik ditanya tentang makna istiwa`, dia berkata: 

Artinya: Istiwa` itu maklum, caranya tidak diketahui (majhul), mempertanyakannya bid’ah (mengada-ada), saya duga engkau ini orang jahat. Keluarkan olehmu orang ini dari majlis saya. Maksudnya, makna lahir dari kata istiwa’ jelas diketahui oleh setiap orang. akan tetapi, pengertian yang demikian secara pasti bukan dimaksudkan oleh ayat. sebab, pengertian yang demikian membawa kepada tasyabbuh (penyerupaan Tuhan dengan sesuatu) yang mustahil bagi Allah. karena itu, bagaimana cara istiwa’ di sini Allah tidak di ketahui. selanjutnya, mempertanyakannya untuk mengetahui maksud yang sebenarnya menurut syari’at dipandang bid’ah (mengada-ada). 

Kesahihan mazhab ini juga didukung oleh riwayat tentang qira’at Ibnu Abbas. 


“Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan berkata orang-orang yang mendalam ilmunya, ”kami mempercayai”. 

b. Madzhab Khalaf, yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang laik dengan Dzat Allah, karena itu mereka disebut pula Muawwilah atau Madzhab Takwil. Mereka memaknai istiwa` dengan ketinggian yang abstrak, berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. Kedatangan Allah diartikan dengan kedatangan perintahnya, Allah berada di atas hamba-Nya dengan Allah Maha Tinggi, bukan berada di suatu tempat, “sisi” Allah dengan hak Allah, “wajah” dengan zat “mata” dengan pengawasan, “tangan” dengan kekuasaan, dan “diri” dengan siksa. Demikian sistem penafsiran ayat-ayat mutasyābihat yang ditempuh oleh ulama Khalaf. 

Alasan mereka berani menafsirkan ayat-ayat mutasyābihat, menurut mereka, suatu hal yang harus dilakukan adalah memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan lafal terlantar tak bermakna. Selama mungkin mentakwil kalam Allah dengan makna yang benar, maka nalar mengharuskan untuk melakukannya. 

Kelompok ini, selain didukung oleh argumen aqli (akal), mereka juga mengemukakan dalil naqli berupa atsar sahabat, salah satunya adalah hadis riwayat Ibnu al-Mundzir yang berbunyi: 

“Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya”. Berkata Ibnu Abbas: “saya adalah di antara orang yang mengetahui takwilnya.” (HR. Ibnu al-Mundzir) 

Disamping dua mazhab di atas, ternyata menurut as-Suyuti bahwa Ibnu Daqiq alId mengemukakan pendapat yang menengahi kedua mazhab di atas. Ibnu Daqiqi al-Id berpendapat bahwa jika ta’wīl itu jauh maka kita tawaqquf (tidak memutuskan). Kita menyakini maknanya menurut cara yang dimaksudkan serta mensucikan Tuhan dari semua yang tidak laik bagi-Nya. 

Sejalan dengan ini, para ulama menyebutkan bahwa mazhab salaf dikatakan lebih aman karena tidak dikhawatirkan jatuh ke dalam penafsiran dan penakwilan yang menurut Tuhan salah. Mazhab khalaf dikatakan lebih selamat karena dapat mempertahankan pendapatnya dengan argumen aql

5. Hikmah Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyābih

Setidaknya ada tiga hikmah yang dapat kita ambil dari persoalan Muhkam dan Mutasyābih tersebut, hikmah-hikmah itu adalah: 

a.   Andai kata seluruh ayat Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat Muhkamat, niscaya akan sirnalah ujian keimanan dan amal lantaran pengertian ayat yang jelas. 

b.   Seandainya seluruh ayat Al-Qur’an Mutasyābihat, niscaya akan  lenyaplah kedudukannya sebagai penjelas dan petunjuk bagi manusia. Orang yang benar keimanannya yakin bahwa Al-Qur’an seluruhnya dari sisi Allah, segala yang datang dari sisi Allah pasti hak dan tidak mungkin bercampur dengan kebatilan. 

“Tidak akan datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fussilat [41]: 42) 

c.   Al-Qur’an yang berisi ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat  mutasyābihat, menjadi motivasi bagi umat Islam untuk terus menerus menggali berbagai kandungannya sehingga mereka akan terhindar dari taqlid, bersedia membaca Al-Qur’an dengan khusyu’ sambil merenung dan berpikir. 


SUMBER:

M. Taufikurohman, Ilmu Tafsir Kelas XI MA Peminatan Keagamaan,   (Cet. I; Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah  Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, 2020)

Senin, 18 Januari 2021

KISAH-KISAH DALAM AL-QUR'AN

QASANUL QUR'AN

              Sumber Gambar : https://majalahnabawi.com/kisah-perseteruan-iblis-dan-manusia/

A. Definisi Qasanul Qur'an

Kata Qoṣoṣ berasal dari kata bahasa Arab  Bentuk jamak dari kata Qisṣah Yang berarti mengulang kembali masa lalu

Manna’ Khalil al-Qattan “qashashtu atsarahu” berarti menelusuri jejak. Sedangkan Qiṣaṣ menurut Muhammad Ismail Ibhrahim berarti hikayat berarti cerita. Kata al-qashash adalah bentuk masdar seperti dalam QS. Al-Kahfi [18]: 64 disebutkan:
Artinya: “lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula”. 

Secara etimologi, al- Qoṣoṣ mempunyai arti urusan (al-amr), berita (al-khabar), perbuatan (al-sya’an), dan keadaan (al-hal). Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata al-Qasaṣ diterjemahkan dengan kisah yang berarti kejadian (riwayat, dan sebagainya). 

Adapun yang dimaksud dengan Qoṣoṣul Qur’an, sebagaimana dijelaskan Manna’ul Qaththan adalah: 
“Qaṣaṣ Al-Qur’an adalah pemberitaan Al-Qur’an tentang ihwal umat terdahulu, nubuwat (kenabian), kejadian faktual yang terjadi pada umat pada negeri-negeri terdahulu yang diceritakan melalui surah dalam Al-Qur’an.” 

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa pada kisah-kisah yang dimuat dalam Al-Qur’an semuanya cerita yang benar-benar terjadi, tidak ada cerita fiksi, khayal, apalagi dongeng. Jadi bukan seperti tuduhan sebagian orientalis bahwa Al-Qur’an ada yang tidak cocok dengan fakta sejarah.

B. Pembagian Qasasul Qur’an
1. Ditinjau dari Segi Waktu
a. Kisah hal-hal gaib pada masa lalu. Kejadian-kejadian gaib yang sudah tidak bisa ditangkap Panca indra yang terjadi di masa lampau. Contohnya:
1). Kisah tentang dialog malaikat dengan Tuhannya mengenai penciptaan khalifah bumi. Hal ini diceritakan QS. Al-Baqarah [2]: 30;
Artinya: “ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

2). Kisah tentang penciptaan alam semesta, seperti yang terdapat dalam QS. Al-Furqan [25]: 59;
Artinya: “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.”

3. Kisah tentang penciptaan Nabi Adam dan kehidupannya ketika di Surga, dalam QS. Al-A’raf [7]: 11;
Artinya: “(Allah) berfirman, "Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?" (Iblis) menjawab, "Aku lebih baik dari pada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

4). Kisah nabi Nuh, nabi Musa, dan kisah Maryam seperti yang diterangkan dalam QS. Al-Imran [3]: 44; 
Artinya: “Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena7 (mereka untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam, dan engkau pun tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar.”
 
2. Kisah-kisah gaib yang masih berlangsung hingga masa kini.
Kisah yang menerangkan hal gaib pada masa sekarang, (meski sudah ada sejak dulu dan masih akan tetap ada sampai masa yang akan datang) dan menyingkap rahasia orang munafik. Contoh:
a. Kisah tentang turunnya malaikat-malaikat pada malam Lailatul Qadr, diceritakan dalam QS. Al-Qadar [97]: 1-5;
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

b. Kisah tentang kehidupan makhluk-makhluk gaib seperti setan, jin, atau iblis. Diceritakan dalam QS. Al-A’raf [7]: 13-14; 
Artinya: “Allah berfirman, "Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” Iblis men­jawab, "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.”

3. Kisah hal-hal gaib pada masa yang akan datang.
Kisah-kisah yang menceritakan peristiwa yang akan datang yang belum terjadi pada waktu turunnya Al-Qur’an, kemudian peristiwa tersebut betul-betul terjadi. Seperti kisah kemenangan kerajaan Bizantium atas kerajaan Persia yang terjadi 7 tahun setelah Al-Qur’an diturunkan. Kisah ini diabadikan dalam QS. Ar-Rum [30]: 1-4;
Artinya: "Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi).” 

2. Ditinjau dari Materi
Ditinjau dari segi materi, kisah-kisah dalam Al-Qur’an menceritakan tentang:

a. Kisah tentang perjalanan dakwah para rasul, mukjizat mereka, fase-fase dakwah mereka, penentang, serta pengikut mereka. Contoh kisah para nabi dan rasul yang 25, seperti kisah nabi Ibrahim dan mukjizatnya pada QS. Al-Anbiya’ [21]: 69;
Artinya: “Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”

b. Kisah kesalehan orang-orang yang belum diketahui status kenabiannya agar diteladani dan kisah tokoh-tokoh durjana masa lalu agar dijauhi dan tidak diikuti. Contoh kisah tentang Luqman dalam QS. Luqman [31]: 12-13; 
Artinya: “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha 
Terpuji.”
c. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah Saw. seperti kisah tentang kekalahan umat Islam pada perang Uhud dalam QS. Ali Imran [3]: 165;
Artinya: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

3. Ditinjau dari Segi Pelaku
Jika ditinjau dari segi pelakunya, maka kisah-kisah dalam Al-Qur’an dibagi menjadi beberapa macam:
1. Kisah tentang manusia, yaitu kisah yang pelakunya adalah mansuia. Seperti kisah yang menceritakan tentang para nabi dan rasul, kisah Ali ‘Imran, kisah Sayyidah Maryam, kisah Fi’aun, kisah Qarun dan sebagainya. Dalam QS. Al- Qoṣoṣ [28]: 38 Al-Qur’an menceritakan kedurhakaan Fir’aun dengan mangaku dirinya sebagai tuhan;

Artinya: “Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta ”

2. Kisah tentang malaikat, yaitu kisah yang pelakunya malaikat. Seperti QS. Hud [11]: 69-70, yang mengisahkan bahwa malaikat datang kepada nabi Ibrahim dan nabi Luth dengan menjelma sebagai seorang tamu;

Artinya: “Dan para utusan Kami (para malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, "Selamat." Dia (Ibrahim) menjawab, "Selamat (atas kamu)." Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang (69) Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, "Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut (70)

3. Kisah yang digambarkan oleh jin. Seperti kisah jin Ifrit yang disebutkan dalam QS. An-Naml [27]: 39-40;

Artinya: “Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya” )٣٩( “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihatsinggasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Maha Mulia” (40)

4. Binatang, yaitu kisah yang pelakunya adalah binatang. Contoh dalam QS. An-Naml [27]: 18-19 Al-Qur’an menceritakan tentang burung yang terdapat pada zaman nabi Sulaiman;

Artinya: “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari (18) maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”(19) 
 
4. Ditinjau dari Segi Panjang Pendeknya
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an dilihat dari panjang pendeknya terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Kisah Panjang. Contohnya kisah Nabi Yusuf as. dalam surat Yusuf yang hampir seluruh ayatnya mengungkapkan kehidupan Nabi Yusuf as., sejak masa kanak-kanak sampai dewasa dan memiliki kekuasaan.
2. Kisah yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek (tengah-tengah antara kisah panjang dan kisash pendek), seperti kisah Maryam dalam surah Maryam, kisah Ashabul Kahfi dalam surah al-Kahfi, kisah Nabi Adam as. dalam surat Al Baqarah dan surat Thaha.
3. Kisah Pendek, kisah yang diceritakan dalam jumlah yang tidak lebihh dari sepuluh ayat. Seperti kisah Nabi Hud as. dan Nabi Luth as. dalam surat Al-A’raf 
 
5. Ditinjau dari Jenisnya
Dilihat dari jenisnya, kisah-kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi beberapa bagian sebagai beriktu:
a. Kisah tentang sejarah
Kisah yang berkisar tentang kisah-kisah sejarah, seperti sejarah para nabi dan rasul sebagaimana disebutkan di atas. 
b. Kisah Perumpamaan
Perumpamaan ini merupakan metode Al-Qur’an untuk memperjelas suatu makna tertentu. Seperti Allah mengumpamakan keimanan (tauhid) dengan pohon yang senantiasa menghasilkan buah yang baik, sebagaimana dalam QS. Ibrahim [14]: 24-25; 

Artinya:“tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (24) pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (25) 


BERSAMBUNG............................ 

C. Faedah Qaṣaṣul Al-Qur’an 

Setelah Ananda memahami tentang pengertian dan pembagian Qoṣoṣul Qur’an beserta contoh ayatnya, selanjutnya Ananda diharapkan mampu memahami faedah dari Qoṣoṣul Qur’an. Di antara faedah Qaṣaṣul Qur’an adalah sebagai berikut: 

1. Dapat memahami metode dakwah yang dilakukan para nabi dan rasul dalam mengajak umatnya untuk mentauhidkan Allah Swt. Seperti metode berdakwah nabi Musa dan nabi Harun terhadap Fir’aun dan kaumnya. Kisah ini dijelaskan dalam QS. Thaha [20]: 42-44;  

Artinya: “Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku (42) Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (430; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut”(44)  
2. Meneguhkan hati Rasulullah dan hati umat Muhammad atas agama Allah, memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya.  
3. Membenarkan para Nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak peninggalannya. 
4. Menampakkan kebenaran Muhammad dalam dakwahnya dengan apa yang diberitakannya ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi. 
5. Menyibak kebohongan para ahli kitab dengan hujjah (dalil atau dasar pemikiran) yang membeberkan keterangan dan petunjuk yang mereka sembunyikan dan menentang mereka sebelum kitab itu diubahnya.

D. Hikmah Pengulangan Kisah dalam Al-Quran
Di dalam kitab suci Al-Qur’an banyak sekali kisah-kisah yang disebutkan berulangulang. Hanya saja pengulangan kisah-kisah Itu dalam bentuk yang berbeda-beda. Hal tersebut mengandung hikmah yang di antaranya: 
a. Menjelaskan ketinggian mutu sastra balaghah Al-Qur’an, terbukti bisa mengungkapkan kisah sampai beberapa kali tetapi dalam ungkapan yang berlainan sehingga tidak membosankan bahkan mengasyikkan pendengarnya. 
b. Membuktikan ketinggian mu’jizat Al-Qur’an, yakni bisa menjelaskan satu makna (satu kisah) dalam berbagai bentuk kalimat yang bermacam-macam. 
c. Untuk lebih memperhatikan kepada pentingnya kisah-kisah Al-Qur’an sehingga perlu disebutkan dengan berulang-ulang sampai beberapa kali agar dapat lebih meresap terpatri dalam hati sanubari. d. Menunjukkan perbedaan tujuan dari tiap-tiap kali pengulangan penyebutan kisah AlQur’an itu, sehingga menunjukkan banyaknya tujuan penyebutan kisah sebanyak pengulangannya 
 
E. Karakteristik Kisah dalam Al-Qur’an
Kisah-kisah yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an merupakan kisah ilahiah, yaitu sumber kisah-kisah dalam Al-Qur’an berasal dari Allah Swt. Karena itu, kebenaran setiap kisah-kisah Al-Qur’an besifat mutlak dan tidak dapat diragukan lagi. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an memiliki karakter yang khas yang membedakannya dari kisah-kisah yang dibuat manusia. Di antarnya karakter kisah-kisah Al-Qur’an sebagai berikut: 
a. Kisah dalam Al-Qur’an disampaikan dengan gaya bahasa yang indah dan sederhana, sehingga mudah dipahami oleh para pembacanya dari semua kalangan.
b. Materi kisah dalam Al-Qur’an bersifat universal, sesuai dengan sejarah perkembangan kehidupan manusia dari masa ke masa.
c. Kebenarannya dapat dibuktikan secara filosofis dan ilmiah melalui bukti-bukti sejarah. d. Banyak kisah yang disampaikan melalui dialog yang dinamis dan rasional sehingga dapat merangsang imajinasi pembaca. 
 
6. Tujuan Qaṣaṣul Qur’an
Setiap muslim mengimani bahwa Allah Swt. Maha Suci dari perbuatan sia-sia. Dalam menurunkan ayat Al-Qur’an yang memuat kisah-kisah tentu Allah Swt. memiliki maksud dan tujuan yang dikehendakiNya. Di antara tujuan adanya kisah-kisah dalam AlQur’an dapat disimpulkan adalah sebagai berikut:
a. Untuk menetapkan kebenaran bahwa Rasulullah Saw. menerima wahyu dari Allah Swt. Adanya kisah-kisah dalam Al-Qur’an, khususnya kisah-kisah ghaib yang tak dapat dijangkau akal manusia justru menguatkan kebenaran apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw. bersumber dari Tuhannya. Selain itu, keadaan nabi Muhammad Saw. sebagai rasul yang ummi dapat dijadikan hujjah untuk melemahkan tuduhan orang-orang kafir bahwa Al-Qur’an hasil imajinasi nabi Muhammad Saw. yang diilhami oleh para tukang sihir. 
b. Untuk dijadikan pelajaran bagi manusia. Ada dua aspek yang terkandung dalam kisahkisah Al-Qur’an: pertama, tentang kekuasaan dan kebesaran Allah Swt., kedua, menjelaskan bahwa dakwah para nabi dan rasul mengarah pada substansi yang sama, yaitu mentauhidkan Allah Swt. 
c. Meneguhkan jiwa nabi Muhammad Saw. dalam berdakwah kepada umatnya. Dengan dikisahkan kepadanya tentang pengingkaran dan kedurhakaan umat-umat masa silam, maka jiwa nabi Muhammad Saw. menjadi lebih kuat sebab cobaan yang dihadapi pernah terjadi pada nabi dan rasul terdahulu. 
d. Memberikan pendidikan akhlak dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena di dalam Al-Qur’an terdapat banyak kisah-kisah teladan yang dapat dicontoh dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. 
 
SELESAI......




Selasa, 04 Agustus 2020

TAFSIR ILMU TAFSIR KELAS XII ( BAB I AMAR MA'RU NAHI MUNGKAR)

AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR



Apakah Amar Ma'ruf Nahi Mungkar itu?


Amar berarti perintah, ma’ruf artinya kebaikan. Jadi amar ma'ruf adalah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik. Sedangkan Nahi bararti mencegah, munkar artinya kejahatan. Nahi Mungkar adalah mencegah hal-hal yang kejahatan/ buruk bagi masyarakat.

Amar Ma'ruf Nahi Mungkar adalah bagian yang tak terpisahkan dalam agama Islam, yang kesemuanya sering disebut dengan dakwah. secara etimologis, menurut para ahli bahasa, dakwah berakar kata da’a-yad’u-da’watan, artinya ”mengajak” atau ”menyeru”. Secara terminologis, dakwah adalah mengajak atau menyeru manusia agar menempuh kehidupan ini di jalan Allah Swt, berdasarkan ayat Al-Quran:

"Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik..." (QS. An-Nahl:125).

Banyak sekali ayat-ayat dalam al-Qur'an yang memerintahkan umat Islam untuk berdakwah atau melakukan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Namun pada pembahasan di dalam blog ini, kami hanya akan kita bahas al-Qur'an Surah Ali-Imran : 104, al-Mai'dah : 78-80, dan as-Saff : 3.

Pertama, al-Qur'an Surah Ali-Imran : 104 
Atinya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.
 

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa hendaklah dalam sebuah komunitas atau masyarakat hendaklah melaksanakan fungsi dakwah atau ber-amar ma'ruf nahi mungkar. Disamping itu, diantara mereka pula harus ada sosok yang memosisikan diri sebagai pencegah atau melakukan upaya-upaya preventif akan teradinya kemunkaran. Mereka mengajak secara terus-menerus tanpa bosan dan lelah kepada kebajikan, Menyuruh masyarakat kepada yang ma’ruf dengan menanamkan nilai-nilai luhur, termasuk kebiasan baik yang lahir dari  nilai tradisi kemasyaratan. Sementera  mencegah mereka dari yang munkar, yakni perilaku  buruk yang diingkari oleh akal sehat masyarakat. Orang-orang yang mengambil peran demikian akan mendapatkan martabat dan kedudukan yang mulia baik disisi Allah Swt., maupun masyarakat.

Ada beberapa hal yang harus dipahami dalam QS. Ali ‘Imrān: 104, yaitu:

a) Nilai-nilai Ilahiyah tidak boleh dipaksakan apalagi dengan cara-cara kekerasan. Tetapi harus disampaikan secara persuasif, lemah lembut dan santun dalam bentuk ajakan yang baik.  Kekerasan atau intimidasi akan menjadikan wajah agama terlihat garang. Cara yang baik ini sangat penting untuk menampilkan keislaman yang rahmatan lil’alamīn di bumi Indonesia.  

b) Menganjurkan berbuat kebaikan saja tidaklah cukup, tetapi harus dibarengi dengan menghilangkan sifat-sifat yang buruk. Siapa saja yang ingin mencapai  kemenangan. maka ia terlebih dahulu harus mengetahui persyaratan dan taktik perjuangan untuk mencapainya, yaitu: kemenangan tidak akan tercapai melainkan dengan kekuatan baik lahir maupun batin. 
ْc) Hal-hal yang baik atau,  ma'ruf  sewajarnya diperintahkan, demikian juga  munkar seharusnya dicegah. Baik yang memerintahkan dan yang mencegah akan bisa lebih efektif jika penguasa atau pemerintah bisa mengambil peran seara maksimal.
 
Kedua, Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah : 78-80 
Artinya:

78. Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.
 
79. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. 

80. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya Amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, Yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. 

Pada al-Qur’a>n Surah al-Māidah (5):78-80, Allah Swt., menerangkan bahwa orang-orang kafir dari kalangan Yahudi mendapat kemurkaan dan kutukan Tuhan melalui ucapan Nabi Daud As. dan Nabi Isa As. Nabi Dawud As.mengutuk Ketika mereka membuat kedurhakaan pada hari Sabtu (hari larangan terhadap orang Yahudi menangkap ikan). Nabi Isa As.,pun pernah mengutuk sebagian umatnya. Pada akhir ayat dijelaskan bahwa kutukan itu disebabkan mereka membuat maksiat dan melanggar hukum-hukum Allah Swt dengan cara melampaui batas.

Pada ayat 79 menerangkan bahwa kebiasaan orang-orang Yahudi yaitu membiarkan kemungkaran-kemungkaran terjadi di hadapan mereka. Mereka tidak melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Demikian itu menjadi sebab adanya kutukan Allah pada mereka.

Setelah menegaskan kedurhakaan mereka, ayat 80 menerangkan bahwa Nabi Muh}ammad menyaksikan sendiri tingkah laku orang-orang kafir dari bani Israil yang ada pada pada masanya. Mereka kebanyakan tolong-menolong dengan orang musyrik dari kalangan Arab (kaum Nabi sendiri) dalam usaha memerangi Nabi Muh}ammad. Pekerjaan yang mereka lakukan adalah sangat buruk, karena hanya mengikuti perintah hawa nafsu dan hasutan. Perbuatan itu menimbulkan kemurkaan Allah yang karenanya mereka pasti mendapat balasan daripada-Nya berupa azab api neraka untuk selama-lamanya.
 
Orang Yahudi yang berpura-pura memeluk agama Islam, yang pada saat itu bermukim di Madinah dan sekitarnya. Mereka menemukanmasyarakat Arab yang terdiri dari dua suku besar, yakni Aus dan Khazraj telah berduyun-duyun memeluk Islam, di samping juga melihat kepentingan ekonomi serta pengaruh politik mereka menyusut, maka tidak ada jalan lain kecuali berupaya menghambat laju agama Islam. Mereka bekerja sama dengan kaum musyrikin yang bermukim di Mekah dan sekitar Madinah. Tokoh utama kelompok Yahudi ini adalah Ka'b Ibn al-Asyrāf yang berperan besar mendorong kaum musyrikin menyerang kota Madinah.

ketiga, al-Qur'an Surah As-Saff : 3

Artinya:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Sebagaimana ayat tersebut, Allah Swt., telah memperingatkan kepada orang-orang yang gemar memerintah untuk melakukan kebaikan namun dia sendiri enggan unuk melakukannya. Sikap demikian dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan masyarakat yang bersangkutan  akan dbenci oleh Allah Swt dan juga masyarakat. Menurut Syaikh Imam at-Tabariy dalam kitabnya Jami’ul Bayan ‘An Ta’wi lil Ayil Qur’an, bahwa dosa terbesar adalah orang-orang yang gemar menganjurkan untuk berbuat kebaikan namun dirinya tidak melakukan.
Quraish Shihab menyatakan bahwa orang yang menganjurkan atau mewajibkan pada orang lain untuk melakukan kebaikan, maka paling tidak, ia harus bisa menyesuaikan dengan kemampuan pribadinya. Hal ini agar yang bersangkutan tidak terancam murka Allah Swt.

Demikianlah Pembahasan tentang Amar Ma'ruf Nahi Mungkar, semoga bermanfaat dan bernilai ibadah di sisi Allah Aamiin ya Rabbal Aalamiin....!!!

sumber:

Buku Tafsir Ilmu Tafsir kelas XI Direktorat Pendidikan Madrasah dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2015


Buku Tafsir Kelas XII Direktorat KSKK  Madrasah dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2019


SEPATAH KATA DARI SISWA YANG MENINGGALKAN SEKOLAH/ MADRASAH

  Foto Penamatan dan Kelulusan Siswa MAN Pinrang Angk. 2020-2021 Bismillahirrahmanirrahiim Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Bap...